Sesuai perkiraan, Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan di level 6% setelah meningkatkan suku bunga sebanyak enam kali sejak bulan Mei.

Keputusan BI untuk mempertahankan suku bunga utamanya didasarkan oleh Fed yang mengambil pendekatan yang lebih tidak agresif dari yang diperkirakan sehubungan dengan normalisasi kebijakan moneter di tahun 2019. Walau begitu, BI menegaskan bahwa akan menolong Rupiah apabila diperlukan. Perlu diingat bahwa suku bunga AS yang meningkat dapat mempercepat arus keluar modal dari pasar berkembang dan memperlemah mata uang pasar berkembang, termasuk Rupiah. Walaupun kenaikan suku bunga lebih lanjut oleh BI tahun depan berpotensi membatasi arus keluar modal dan menolong Rupiah, namun pertumbuhan ekonomi dapat terkena dampaknya.

Dari aspek teknis, Rupiah telah melemah 6.25% terhadap Dolar sejak awal tahun hingga kini. Gambaran teknikal harian terlihat stabil karena suasana libur akhir tahun. Harga kemungkinan akan berada di kisaran 14650 – 14250 hingga tahun baru.

Kenaikan hawkish Fed pupuskan harapan reli Santa

Harapan terjadinya reli Santa Clause pudar karena kenaikan suku bunga Federal Reserve yang hawkish di pertengahan pekan.

Pasar saham global mengalami tekanan jual yang besar setelah Fed terdengar lebih tidak dovish dari yang diperkirakan. Walaupun kenaikan suku bunga di bulan Desember sudah sangat terefleksikan pada harga di pasar, investor yang mencari pernyataan "satu dan selesai" sangat kecewa setelah Fed mengatakan bahwa "beberapa kenaikan bertahap lebih lanjut" terhadap suku bunga masih dapat dilaksanakan. Revisi dot plot yang menunjukkan penurunan dari tiga menjadi dua kenaikan suku bunga di tahun 2019 memang memberikan sentuhan dovish, namun pernyataan Fed dan konferensi pers Powell secara keseluruhan bernada hawkish.

Pasar mencari kepastian dari Fed seiring dengan berakhirnya tahun ini, namun sepertinya pasar tetap menghadapi ketidakpastian.  Fed membuka kemungkinan kenaikan suku bunga lebih lanjut walaupun keadaan pasar bergejolak, dan sentimen pasar akan tetap waspada di ujung tahun 2018. Komentar hawkish Powell pada konferensi pers menambah ketidakpastian dan kebingungan di pasar, terutama mengingat bahwa Powell dovish beberapa pekan yang lalu.

Sorotan komoditas - Emas

Harga emas naik turun tajam di pertengahan pekan ini setelah Federal Reserve mengejutkan investor dengan nada yang lebih hawkish dari yang diperkirakan.

Sentimen beli terhadap Dolar awalnya meningkat setelah kenaikan suku bunga, namun kemudian melemah kembali karena kekhawatiran mengenai pertumbuhan. Penghindaran risiko memicu minat terhadap aset safe haven dan Dolar kesulitan untuk menguat, sehingga emas berpotensi bersinar di tahun 2019. Dari sudut pandang teknikal, logam mulia ini bullish pada rentang waktu harian karena secara konsisten terdapat puncak yang lebih tinggi dan lembah yang lebih tinggi. Breakout tegas di atas $1250.70 dapat membuka jalan menuju $1260.

Sanggahan: Isi dari artikel ini terdiri dari pendapat-pendapat pribadi dan tidak seharusnya ditafsirkan sebagai sesuatu yang berupa nasihat investasi pribadi dan/atau lainnya dan/atau suatu penawaran dari dan/atau permohonan untuk transaksi pada instrumen keuangan dan/atau sebuah jaminan dan/atau prediksi atas kinerja di masa depan. ForexTime (FXTM), para afiliasinya, agen, direktur, petugas atau pegawainya tidak memberikan jaminan atas akurasi, keabsahan, batas waktu atau keutuhan dari informasi atau data yang disediakan dan tidak memikul tanggung jawab atas semua kerugian yang dapat timbul dari segala investasi yang didasarkan pada hal tersebut.